“KEWIRAUSAHAAN
adalah singkatan dari: Kreatif, Enerjik, Wawasan luas, Inovatif, Rencana
bisnis, Agresif, Ulet, Supel, Antusias, Hemat, Asa, Antusias, Negosiatif.”(Anonim 1, 2005)
Apakah tujuan yang akan dicapai dari pengembangan
kewirausahaan? Dengan kata lain, mengapakah kewirausahaan itu
penting untuk dimiliki oleh seseorang? Dalam hidup ini sudah jelas yaitu hanya
orang-orang yang memiliki kelebihan kualitas saja yang berhak memilih kehidupan
di dunia, misalnya penghasilan, karir, pengaruh, dan prestise. Kualitas
kewirausahaan merupakan salah satu dimensi penting kualitas manusia, akan
tetapi kewirausahaan sebagai peluang karir kurang memperoleh perhatian dan
bahkan terasa dikesampingkan dalam sistem pendidikn kita. Oleh karena itu,
lemahnya kewirausahaan generasi muda dapat dimengerti karena kurang memperoleh
tempat dalam kebijakan pendidikan nasional. Padahal, kewirausahaan mengajarkan cara-cara
berpikir kreatif, inovatif, positif, dan menggerakan hati nurani untuk lebih
proaktif, properubahan, mendorong keingintahuan, ulet, gigih, berani mengambil
resiko, dan mengajarkan peserta didik tentang pentingnya prakarsa (keberanian
moral) untuk melakukan hal-hal baru yang belum pernah dilakukan, akan tetapi
akan membawa nilai tambah serta keuntungan yang lebih besar. Maka, kedepan,
pendidikan jiwa kewirausahaan sudah merupakan keniscayaan untuk diajarkan di
sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga sampai perguruan
tinggi.
Sebagai tambahan, kewirausahaan itu untuk siapa saja yang ingin menjadi
wirausaha sukses dan memperoleh keuntungan darinya (ekonomi dan/atau
non-ekonomi, material dan/atau non-material). Kewirausahan itu bukan hanya
miliknya para pengusaha, akan tetapi milik siapa saja, termasuk kepala sekolah,
pengawas dan bahkan menteri sekalipun karena mereka juga dapat disebut sebagai
wirausaha jika mereka sukses dalam pekerjaannya. Kebetulan, yang banyak
mempraktekkan kewirausahaan adalah para pengusaha karena mereka tahu
manfaatnya, akan tetapi bukan berarti bahwa kewirausahaan hanya milik pengusaha.
Ada dua jenis karateristik atau
dimensi kewirausahaan yaitu: (1) kualitas dasar kewirausahaan, yang meliputi
kualitas daya pikir, daya hati/qolbu, dan daya pisik; dan (2) kualitas
instrumental kewirausahaan, yaitu penguasaan lintas disiplin ilmu. Berikut
dijabarkan seperlunya tentang dua karakteristik/dimensi kewirausahaan yang
dimaksud.
1. Kualitas Dasar
Kewirausahaan
a.
Daya Pikir
Kualitas dasar daya pikir
kewirausahaan memiliki karakteristik/dimensi-dimensi sebagai berikut: berpikir
kreatif; berpikir inovatif; berpikir asli/baru/orisinil; berpikir divergen;
berpikir mengembangkan; pionir berpikir; berpikir menciptakan produk dan
layanan baru; memikirkan sesuatu yang belum pernah dipikirkan oleh orang lain;
berpikir sebab-akibat; berpikir lateral; berpikir sistem; berpikir sebagai
perubah (agen perubahan); berpikir kedepan (berpikir futuristik); berintuisi
tinggi; berpikir maksimal; terampil mengambil keputusan; berpikir positif; dan
versalitas berpikir sangat tinggi.
b. Daya
Qolbu/Hati
Kualitas dasar daya hati/qolbu
kewirausahaan memiliki karakteristik/dimensi-dimensi sebagai berikut:
prakarsa/inisiatif tinggi; ada keberanian moral untuk mengenalkan hal-hal baru;
proaktif, tidak hanya aktif apalagi hanya reaktif; berani mengambil resiko;
berani berbeda; pro perubahan dan bukan pro kemapanan; kemauan, motivasi, dan
spirit untuk maju sangat kuat; memiliki tanggungjawab moral yang tinggi;
hubungan interpersonal bagus; berintegritas tinggi; gigih, tekun, sabar, dan
pantang menyerah; bekerja keras; berkomitmen tinggi; memiliki kemampuan untuk
memobilisasi orang lain; melakukan apa saja yang terbaik; melakukan perbaikan
secara terus menerus; mau memetik pelajaran dari kesalahan, dari kesuksesan,
dan dari praktek-praktek yang baik; membangun teamwork yang kompak, cerdas,
dinamis, harmonis, dan lincah; percaya diri; pencipta peluang; memiliki sifat
daya saing tinggi, tetapi mendasarkan pada nilai solidaritas; agresif/ofensif;
sangat humanistik dan hangat pergaulan; terarah pada tujuan akhir, bukan tujuan
sesaat; luwes dalam pergaulan; selalu menginginkan tantangan baru; selalu
membangun keindahan cita rasa melalui seni (kriya, musik, suara, tari, lukis,
dsb.); bersikap mandiri akan tetapi supel; tidak suka mencari kambing hitam;
selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai tambah sumberdaya; terbuka
terhadap umpan balik; selalu ingin mencari perubahan yang lebih baik (meningkatkan/mengembangkan);
tidak pernah merasa puas, terus menerus melakukan inovasi dan improvisasi demi
perbaikan selanjutnya; dan keinginan menciptakan sesuatu yang baru.
c.
Daya Pisik
Kualitas dasar daya pisik/raga kewirausahaan memiliki
karakteristik/ dimensi-dimensi sebagai berikut: menjaga kesehatan secata
teratur; memelihara ketahan/stamina tubuh dengan baik; memiliki energi yang
tinggi; dan keterampilan tubuh dimanfaatkan demi kesehatan dan kebahagiaan
hidup.
2. Kualitas Instrumental
Kewirausahaan
Jika
seseorang ingin menjadi wirausahawan sukses, maka selain memiliki kualitas
dasar kewirausahaan sebagaimana diuraikan sebelumnya, dia harus juga memiliki
kualitas instrumental kewirausahaan yang kuat yaitu penguasaan disiplin ilmu,
baik mono disiplin ilmu, antar disiplin ilmu, maupun lintas disiplin ilmu.
Kewirausahaan bukanlah sekadar mono-disiplin (ekonomi, matematika, manajemen,
dsb.) dan juga bukan hanya antar disiplin ilmu (manajemen perusahaan, ekonomi
pertanian, psikologi industri, dsb.), akan tetapi juga lintas disiplin ilmu
(lingkungan hidup, kependudukan, dsb.).
Seseorang
yang ingin menjadi wirausahawan sukses tidak cukup hanya memiliki kualitas
dasar kewirausahaan, akan tetapi yang bersangkutan harus juga memiliki kualitas
instrumental kewirausahaan (penguasaan disiplin ilmu). Misalnya, seorang kepala
sekolah, pengawas, atau kepala dinas pendidikan kabupaten/kota, harus memiliki
ilmu pengetahuan yang luas di bidang pekerjaan yang menjadi kewenangan dan
tanggungjawabnya. Misalnya, mereka harus memiliki ilmu-ilmu berikut yaitu: ilmu
pendidikan, teori perubahan, kebijakan pendidikan nasional dan daerah,
manajemen pendidikan, pengembangan organisasi pendidikan, pengembangan
administrasi pendidikan, perencanaan pendidikan, regulasi pendidikan,
kepemimpinan pendidikan, komunikasi dan jejaring pendidikan, supervisi
pendidikan (pembelajaran, manajemen sekolah, dsb.), dan akreditasi sekolah.
Jika seseorang ingin menjadi
wirausahawan sebagai pengusaha, dia harus memiliki ilmu-ilmu sebagaiberikut: manajemen
produksi (proses produksi, rencana produksi, riset dan pengembangan produksi),
manajemen pemasaran (perebutan pelanggan, rencana pemasaran, riset pasar dan
pemasaran), manajemen sumberdaya manusia, manajemen keuangan, manajemen
peralatan dan perbekalan, prinsip-prinsip akuntansi, manajemen transaksi, dan
inti manajemen (general manager).
Karateristik/dimensi-dimensi
kewirausahaan yang telah disebutkan di atas semuanya sangat diperlukan oleh
kepala sekolah, namun materi pelatihan ini hanya dibatasi pada dimensi-dimensi
berikut (sesuai Permendiknas 13/2007): kreativitas untuk selalu mencari solusi
terbaik, inovasi, bekerja keras, dan motivasi tinggi serta pantang menyerah.
Naluri kewirausahaan menyangkut semua sifat-sifat di atas.
Cara-cara mengembangkan kewirausahaan
dilakukan melalui pentahapan sebagai berikut. Pertama, melakukan evaluasi diri tentang tingkat/level kepemilikan kewirausahaan.
Ini dapat dilakukan melalui pengisian daftar kualitas kewirausahaan atau
menjawab sejumlah pertanyaan tentang kewirausahaan yang dilakukan
setulus-tulusnya dan sejujur-jujurnya (lihat Lampiran tentang Instrumen Profil
Diri Kualitas Dasar Kewirausahaan, oleh Slamet PH). Hasil pengisian
daftar/jawaban tersebut berupa profil diri kewirausahaan. Kedua, berdasarkan hasil evaluasi diri (profil diri jiwa kewirausahaan),
selanjutnya ditempuh melalui berbagai upaya yang disebut “belajar”. Ketiga, mempelajari kewirausahaan dapat dilakukan melalui berbagai upaya,
misalnya: berpikir sendiri (otak kita kaya untuk berpikir), membaca (buku,
jurnal, internet/web-site), magang, kursus pendek, belajar dari wirausahawan
sukses, pengamatan langsung dilapangan, dialog dengan wirausahawan sukses,
mengikuti seminar, mengundang wirausahawan sukses, menyimak acara-acara
kewirausahaan di televisi, atau
cara-cara lain yang dianggap tepat bagi dirinya untuk mempelajari kewirausahaan.
Manfaat
kompetensi kewirausahaan bagi Kepala sekolah/madrasah adalah:
1. mampu menciptakan kreativitas
dan inovasi yang bermanfaat bagi pengembangan sekolah/madrasah,
2. bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai
organisasi pembelajaran yang efektif,
3. memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai kesuksesan dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah/madrasah,
4. pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi
kendala sekolah/madrasah,
5. memiliki naluri kewirausahaan sebagai sumber belajar siswa, dan
6. menjadi teladan bagi guru dan siswa di sekolahnya, khususnya mengenai
kompetensi kewirausahaan.
Kepala
sekolah/madrasah sebagai seorang wirausahawan yang sukses harus memiliki tiga
kompetensi pokok yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap/sifat
lewirausahaan. Ketiga kompetensi tersebut saling berkaitan. Keterkaitan ketiga
kompetensi tersebut digambarkan sebagai berikut.

Gambar
2: Kompetensi (Anonim 4, 2005)
Kompetensi
merupakan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap/sifat. Pengetahuan
adalah kumpulan informasi yang disimpan di otak dan dapat dipanggil jika
dibutuhkan. Keterampilan adalah kemampuan menerapkan pengetahuan. Sifat/sikap
adalah sekumpulan kualitas karakter yang membentuk kepribadian seseorang
(Anonim 4, 2005). Seseorang yang tidak memiliki ketiga kompetensi tersebut akan
gagal sebagai wirausahawan yang sukses.
Keterampilan-keterampilan
(skills) yang dibutuhkan oleh seorang
wirausahawan menurut Hisrich & Peters (2002) adalah keterampilan teknikal,
manajemen bisnis, dan jiwa kewirausahaan personal. Keterampilan teknikal
meliputi: mampu menulis, berbicara, mendengar, memantau lingkungan, teknik
bisnis, teknologi, mengorganisasi, membangun jaringan, gaya manajemen, melatih,
bekerja sama dalam kerja tim (teamwork).
Manajemen bisnis meliputi: perencanaan bisnis dan menetapkan tujuan bisnis,
pengambilan keputusan, hubungan manusiawi, pemasaran, keuangan, pembukuan,
manajemen, negosiasi, dan mengelola perubahan. Jiwa wirausahawan personal
meliputi: disiplin (pengendalian diri), berani mengambil risiko diperhitungkan,
inovatif, berorientasi perubahan, kerja keras, pemimpin visioner, dan mampu
mengelola perubahan.